Lain halnya dengan guru. Guru, dalam bahasa Jawa artinya 'digugu lan ditiru'. Dipercaya dan dicontoh. Demikian kurang lebihnya. Sehingga kita dengan mudah mengetahui siapa guru kerabat kita, siapa guru teman2 kita, siapa guru orang tua kita. Beda buku dengan guru adalah yang satu benda mati & satunya lagi hidup.
Maka, kepada siapakah tingkah laku kita mengalir? Nabi Agung Muhammad saaw berguru kepada Malaikat Jibril, dan Jibril langsung kepada Alloh swt. Seperti telah kita ketahui bahwa 'ulama sholih adalah pewaris para nabi. 'Ulama yang memiliki pegangan yang kuat, sanad yang kokoh yang bersambung kepada rosululloh saaw.
Tidak akan cukup kita dalam memahami diin ini jikalau hanya mengandalkan buku2 yang di zaman ini sudah diketahui umum bahwa kebebasan telah menjalar darah2 kaum hedonis. Kebebasan pers, kebebasan berkespresi, dan kebebasan2 lainnya.
Carilah guru yang tidak hanya sekedar guru. Guru yang mampu membimbing perjalanan spiritual kita mampu menuju kepada ridlo Alloh swt. Guru yang tidak mengandalkan buku2 terbitan manusia2 tidak jelas 'sejarahnya'.
والله المستعان على ما تصفون
Tidak ada komentar:
Posting Komentar